Salah satu faktor kesulitan Inter mencetak gol adalah perubahan sistem, serta pemain dalam taktik tiga bek yang menggunakan variasi 3-4-2-1.

Pio Esposito memimpin sebagai ujung tombak yang didukung pergerakan Davide Frattesi dan Andy Diouf. Dua gelandang tengah merupakan pemain kreatif, Petar Sucic dan Hakan Calhanoglu.

Chivu mengakui bereksperimen dengan taktik Inter, juga merotasi pemain mengingat ada Derby della Madoninna di akhir pekan melawan Milan.

Como 0-0 Inter Milan (Foto: Quotidiano Sportivo)

"Saya menghadapi beberapa masalah, kami terpaksa melakukan beberapa perubahan. Ini pertama kalinya saya bermain dengan dua gelandang kreatif yang mendukung striker," papar Chivu dikutip dari Football-Italia.

"Kami juga mengubah cara bertahan kami, terutama di separuh lapangan kami sendiri, kami mencoba menyerang mereka secara man-to-man, tetapi agak lambat dengan bek sayap kami yang menutup pergerakan bek kiri mereka."

"Ada dua striker Como yang bukan striker murni, mundur sedikit lebih dalam, dan menimbulkan masalah bagi kami."

"Mengingat kami tidak punya banyak waktu untuk mempersiapkan diri, bermain setelah 72 jam, para pemain berhasil memahami instruksi dengan cepat dan memberikan yang terbaik, mengetahui bahwa terkadang kami harus menerima permainan penguasaan bola Como," tambahnya.

Kini, nasib Inter di Coppa Italia akan ditentukan di leg dua yang akan dimainkan di Giuseppe Meazza pada 23 April mendatang.

"Kami menunjukkan rasa hormat kepada Como, kami tahu bahwa pertandingan seperti ini dimainkan selama 180 menit, dan penting untuk pulang dengan hasil positif," tambah bek Inter, Matteo Darmian.

"Saat mengenakan seragam Inter, tanggung jawab Anda adalah selalu mengincar kemenangan, tetapi kami tidak berhasil hari ini, dan harus melihat gambaran besarnya," urainya.