Jadi, kemenangan musim ini merupakan pencapaian besar bagi Chivu yang sudah menjadi pemain legenda Inter berkat perannya dalam meraih treble Serie A, Liga Champions, dan Piala Italia pada 2010 di bawah asuhan Jose Mourinho.

Chivu bermain sebanyak 168 kali selama enam musim di Inter, di mana dia memenangkan gelar Serie A tiga tahun berturut-turut.

Dia menghabiskan sebagian besar kariernya di Italia dan pindah ke Inter pada 2007 dari Roma, di mana dia mengangkat Coppa Italia di musim terakhirnya di klub Ibu Kota.

Chivu dibawa ke Roma empat tahun sebelumnya oleh Fabio Cappello.

Pelatih legendaris Italia tersebut tampak terharu pada bulan Oktober ketika mantan pelatihnya memuji pekerjaan yang telah Chivu lakukan untuk mengubah tim yang sebelumnya tampak lesu.

"Yang bisa saya harapkan hanyalah memiliki setengah dari karier Capello, karena saya ingin menjadi pemenang sepertinya," kata Chivu beberapa waktu lalu dikutip dari AFP.

"Dia adalah orang yang mempercayai saya, menerima saya, dan mengizinkan saya bermain di level tertinggi."

Kini Inter juga tampaknya mempercayai Chivu, dengan perpanjangan kontrak yang akan disepakati musim panas ini.

Pembangunan kembali skuad akan segera dilakukan untuk lebih merevitalisasi tim yang hampir tidak berubah sejak masa kepemimpinan pendahulunya.

Langkah selanjutnya bagi Chivu adalah menunjukkan bahwa dia mampu melakukannya dalam pertandingan besar melawan lawan-lawan top, sesuatu yang gagal dilakukan timnya musim ini, baik di dalam maupun luar negeri.

Kegagalan itu akhirnya membuat Inter kehilangan kesempatan lolos langsung ke babak 16 besar Liga Champions dan berujung pada kekalahan memalukan di babak play-off di tangan Bodo/Glimt dari Norwegia.

Dan Chivu akan dinilai berdasarkan bagaimana dia menghadapi Liga Champions dan pertandingan besar melawan rival domestik.