Pertandingan melawan Lazio berjalan sengit kala gol dari Teun Koopmeiners tidak disahkan karena Khephren Thuram pada posisi offside, saat kedudukan masih 0-0.
Namun, ada juga potensi pelanggaran Mario Gila kepada Juan Cabal kala serangan itu dibangun dan beberapa pengamat menilai itu seharusnya penalti.
"Wasit bisa menafsirkannya sesuai keinginannya, karena bek tersebut ceroboh saat melakukan tekel meluncur, jadi dia mengambil risiko," papar Spalletti dikutip dari Football-Italia.
"Saya di sini bukan untuk mengatakan apakah itu penalti atau bukan. Dia bisa saja berlari kembali ke arah bola, tetapi saya akan mengambil pandangan yang lebih luas."
"Sekarang semua orang memprotes aturan, tetapi selalu ada interpretasi."
"Tekanan akibat menginjak kaki, handball yang tidak terlihat oleh siapa pun di stadion tetapi mereka memperbesar gambarnya dengan kamera, semuanya terbuka untuk interpretasi."
"Anda tidak bisa menggeneralisasi bahwa setiap kontak adalah penalti."
Spalletti menilai aturan dalam sepak bola terkini kaku, memberi analogi kala ia mencium reporter wanita di bagian pundak, menilai setiap kontak tidak selalu sama dilihat sebagai benturan.
"Aturan-aturannya terlalu kaku saat ini, kekakuan itulah yang menurut saya menjadi masalah," tambah Spalletti.
"Jika tidak ada yang menyadari bahwa bola mengenai tangan, siapa yang dirugikan? Para analis terus mengatakan 'terjadi kontak', tetapi itu tidak berarti apa-apa, bukan? Bolehkah saya mencium Anda, ini kontak," imbuhnya seraya mencium pundak reporter wanita.
"Ini tentang konteks, kontak tidak sama dengan benturan."
"Akan selalu ada kesulitan jika ada aturan di mana setiap sentuhan tangan adalah penalti, setiap langkah kaki adalah penalti."
"Inilah gunanya VAR, Anda dapat mengevaluasi konteks secara keseluruhan," pungkas Spalletti.