SelebrasiSelebrasi Manchester United (Laman resmi Premier League)

Tersingkir dini di Piala Liga dan Piala FA, Man United untuk kali pertama memainkan laga paling sedikit dalam semusim sejak terakhir terjadi sebelum Perang Dunia Satu (40 laga).

Pemberitaan mengenai Man United besar karenanya tapi dengan fokus satu-satunya di Premier League, memberikan keuntungan untuk klub.

Selain skuad yang lebih bugar karena tak memainkan jadwal padat, persiapan jelang laga lebih panjang, dan bukan kali ini saja cerita mengenai klub besar yang diuntungkan karena tak bermain di Eropa atau banyak kompetisi, kemudian fokus di liga.

Itu bisa dilihat dari Setan Merah lainnya di Italia, AC Milan yang bahkan memburu titel liga melawan rival sekota, Inter Milan.

2. Inkonsistensi Rival

LiverpoolLiverpool gagal menang di Craven Cottage (Anfield Index)

Tiga tempat teratas di Premier League sudah hampir pasti ditempati Arsenal, Manchester City, dan Aston Villa, kecuali jika Man City atau Villa terus kalah dan itu kecil kemungkinan terjadi.

Jadi, persaingan merebutkan tempat di zona Liga Champions lebih ketat pada posisi empat antara Man United, Liverpool, Chelsea, Brentford, Newcastle United, dan Brighton & Hove Albion.

Namun jika dibandingkan dengan Man United, tim-tim lain inkonsisten.

Liverpool arahan Arne Slot lebih sering imbang belakangan ini, juga membagi fokus ke kompetisi lain seperti halnya Chelsea, yang dilatih peramu taktik minim pengalaman, Liam Rosenior.

Chelsea juga tak konsisten bermain karena banyak memiliki pemain muda di dalam skuad mereka.

Begitu juga Brentford yang tak punya cukup pengalaman untuk bertarung di zona Liga Champions, dilatih Keith Andrew yang baru melatih di musim debut.

3. Momentum

Lanjut Baca lagi