BolaSkor.com – Posisi Luciano Spalletti sebagai pelatih kepala Juventus mulai berada di ujung tanduk setelah serangkaian hasil mengecewakan di panggung Serie A.
Tekanan publik kian memuncak menyusul kekalahan telak 0-3 dari Lazio.
Kekalahan tersebut melempar Si Nyonya Tua ke posisi kedelapan klasemen sementara dengan torehan 11 poin dari tujuh pertandingan.
Juventus kini tertinggal delapan angka dari Inter Milan dan Lazio yang menguasai puncak klasemen.
Baca Juga:
Lebih Parah, Juventus Era Luciano Spalletti ketimbang Igor Tudor
Performa kandang Il Bianconeri juga memprihatinkan setelah menelan dua kekalahan dari lima laga Serie A terakhir di Allianz Stadium.
Catatan negatif itu menyamai jumlah kekalahan mereka dari 44 laga kandang sebelumnya.
Dukungan Penuh dari Sang Legenda
Pelatih Juventus, Luciano Spalletti (Foto: Football-Italia)
Di tengah isu pemecatan yang kian kencang, legenda Juventus, Gianluigi Buffon, tampil membela Spalletti.
"Jika saya punya satu harapan, itu adalah melihat Spalletti melanjutkan pekerjaannya hingga akhir," kata Buffon kepada La Gazzetta dello Sport.
Buffon menilai pergantian pelatih bukan solusi atas masalah internal klub saat ini.
"Masalahnya tidak bisa hanya ditimpakan kepada pelatih jika Anda memecat lima pelatih dalam empat tahun," tegas mantan penjaga gawang timnas Italia tersebut.
Buffon juga menyoroti krisis badai cedera yang menghantam kedalaman skuad Spalletti.
Baca Juga:
Klasemen Serie A Terbaru Setelah Juventus Ditekuk Lazio: Bianconeri Terus Merosot
"Ini mungkin bukan Juve terkuat yang pernah kita lihat, tetapi kehilangan Yildiz, Locatelli, Thuram, Ekhator, Milik, dan Grabara sama seperti menghilangkan Cannavaro, Buffon, Totti, Nesta, dan Pirlo dari Italia."
"Luciano tidak pernah mencari alasan, tetapi dia juga harus bertanding tiga hari setelah lawan Celta Vigo dan perjalanan jauh usai tiba rumah jam lima pagi," lanjutnya.
Selain membela Spalletti, Buffon turut mengomentari kritikan keras bek Bremer yang menyebut rekan-rekannya ketakutan dan bersembunyi saat dibantai Lazio.
"Saya juga pernah melakukan itu, dan selalu secara insting. Saya paham luapan emosi Bremer.
"Namun, ketika Anda bicara, Anda harus selalu berada di posisi sebagai orang yang memberi paling banyak dan mampu melemparkan sentilan tersebut," kata Buffon.
"Tetapi Anda harus mempertanyakan diri sendiri terlebih dahulu. Terkadang saya juga perlu ditegur," urai Buffon.