BolaSkor.com -
Penulis: Gigi Gaga/Kontributor Bandung
Gemuruh perayaan juara Piala Presiden 2026 di Bali telah mereda. Persebaya Surabaya keluar sebagai kampiun, Persib Bandung menjadi runner up, Persija Jakarta menempati peringkat ketiga, sementara Arema FC harus puas berada di posisi keempat.
Namun, cerita Piala Presiden tahun ini ternyata tidak berhenti pada siapa yang mengangkat trofi. Ada cerita lain yang tak kalah menarik yakni uang berputar, UMKM bergerak, hotel terisi, transportasi digunakan, kuliner menggeliat, hingga industri kreatif ikut merasakan dampaknya.
Baca Juga:
Termasuk Witan Sulaeman, Ini 5 Pemain Persija Jakarta Paling Bersinar di Piala Presiden 2026
Hasil Piala Presiden 2026: Persebaya Juara Usai Kalahkan Persib di Adu Penalti, Persija Peringkat 3
Daftar Isi
Konsistensi Piala Presiden
Daftar Isi
Konsistensi menjadi salah satu kata kunci dari perjalanan Piala Presiden. Turnamen yang pertama kali digelar pada 2015 ini kembali hadir pada 2026 dan menjadi edisi kedelapan. Meski berstatus turnamen pramusim, gengsinya justru semakin terasa. Klub-klub datang bukan sekadar untuk mengisi agenda sebelum kompetisi resmi bergulir, tetapi membawa ambisi, karakter, dan tentu saja target menjadi juara.
Hadiah yang disiapkan pun bukan kaleng-kaleng. Persebaya sebagai kampiun membawa pulang Rp8 miliar, sedangkan Persib mendapatkan Rp3,5 miliar sebagai runner up. Persija Jakarta yang finis di peringkat ketiga memperoleh Rp2,5 miliar, sementara Arema FC sebagai peringkat keempat menerima Rp1,5 miliar. Bahkan klub yang gagal menembus semifinal tetap mendapatkan apresiasi keikutsertaan sebesar Rp250 juta.
Bukan hanya klub yang kebagian guyuran apresiasi. Pemain muda Persija, Arlyansyah, mendapatkan Rp100 juta setelah dinobatkan sebagai pemain muda terbaik. Gustavo Henrique dari Arema FC menerima nominal yang sama karena menjadi top scorer dengan koleksi empat gol. Sementara Francisco Rivera dari Persebaya juga mendapat Rp100 juta sebagai pemain terbaik turnamen.
Menariknya, penghargaan juga diberikan kepada mereka yang berada di luar lapangan. Bonek, suporter setia Persebaya, diganjar Rp100 juta setelah dinilai sebagai suporter terbaik sepanjang Piala Presiden 2026. Ini menjadi gambaran bahwa sepak bola bukan hanya soal 11 pemain yang berlari mengejar bola, tetapi juga tentang energi dari tribun yang membuat pertandingan terasa hidup.
Piala Presiden 2026 Bawa Nilai Lebih Luas
Ketua Steering Committee Piala Presiden 2026, Maruarar Sirait menegaskan turnamen ini ingin membawa nilai yang lebih luas. Bukan semata tentang trofi, melainkan bagaimana olahraga bisa menghadirkan sportivitas, daya juang, keberlanjutan, kepedulian lingkungan, hingga memberi ruang bagi ekonomi kerakyatan untuk ikut tumbuh.
Efeknya pun terasa di luar stadion. Piala Presiden 2026 disebut menggerakkan perputaran ekonomi hingga sekitar Rp70 miliar. Hotel dan penginapan ikut terisi, transportasi bergerak, tempat makan dan kafe ramai, penjual merchandise klub mendapatkan pembeli, sementara UMKM lokal mendapat panggung untuk menawarkan produk mereka kepada suporter yang datang dari berbagai daerah.
Sebanyak 165 UMKM di Bandung, Surabaya, dan Bali dilibatkan sepanjang turnamen. Bagi Maruarar, angka tersebut bukan sekadar statistik. Ada pedagang yang mendapatkan pembeli lebih banyak, ada kuliner lokal yang semakin dikenal, dan ada roda usaha kecil yang ikut bergerak karena ribuan orang datang mengikuti sepak bola. Hiburan jalan, ekonomi pun ikut jalan.
Piala Presiden juga membawa misi lain yang mungkin tidak terlalu terlihat dari layar televisi yakni urusan sampah. Kampanye “datang bersih, pulang bersih” dijalankan bersama komunitas lokal seperti Metamorfosa, Rumah Bintang Bandung, Nol Sampah Surabaya, dan Trash Ranger Bali. Sebanyak 325 personel kebersihan terlibat, dengan sampah yang dikumpulkan kemudian dipilah untuk didaur ulang menjadi produk bernilai ekonomi.
Dari sisi komersial, kepercayaan sponsor juga menjadi bahan bakar penting. Maruarar menyebut total sponsorship Piala Presiden 2026 mencapai Rp100 miliar. Sebagian dana tersebut kemudian dikembalikan kepada sepak bola Indonesia melalui total hadiah Rp16,5 miliar. Transparansi juga menjadi perhatian dengan PricewaterhouseCoopers (PwC) yang kembali dipercaya sebagai auditor independen untuk kedelapan kalinya.
Di sisi penonton, Piala Presiden 2026 juga mencatat catatan positif. Berdasarkan data yang disampaikan Maruarar, turnamen tahun ini mencatat TV rating 4,3 dan TV share 24,5, dengan jumlah penonton yang disebut mencapai 172 juta orang. Angka tersebut meningkat sekitar 16 persen dibandingkan edisi 2025. Artinya sederhana yakni semakin banyak masyarakat yang memilih menghabiskan waktu menyaksikan sepak bola dari Piala Presiden.
“Pada akhirnya, nilai yang kita representasikan adalah kepercayaan. Kepercayaan tidak mungkin dibangun dalam semalam, apalagi dalam olahraga. Ada proses yang harus diikuti, tata kelola yang baik, transparansi, serta konsistensi 8 kali menyelenggarakan sebuah turnamen tanpa menggunakan dana APBN, APBD, maupun BUMN,” ujar Maruarar.
Ara-sapaan akrabnya berharap Piala Presiden ini tidak hanya melahirkan sang juara, tapi juga melahirkan harapan lainnya.
“Seperti harapan Bapak Presiden Prabowo dan harapan seluruh rakyat Indonesia, Timnas Merah Putih sampai di Piala Dunia. Mari kita berdoa dan berjuang untuk itu, dan nilai-nilai yang kita bangun hari ini akan menjadi milik rakyat Indonesia. Maju terus sepak bola Indonesia, terima kasih, salam olahraga,” tutup Ara. (Laporan Kontributor Gigi Gaga/Bandung)