Son Heung-min: Pengagum Park Ji-sung, Pria Murah Senyum yang Merantau ke Eropa di Usia 16 Tahun

Winger Tottenham Hotspur, Son Heung-min, juga pernah mengalami periode sulit di masa lalu.
Arief HadiArief Hadi - Minggu, 25 Februari 2018
Son Heung-min: Pengagum Park Ji-sung, Pria Murah Senyum yang Merantau ke Eropa di Usia 16 Tahun
Sosok murah senyum, Son Heung-min (Michael Regan - Getty Images)
Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

BolaSkor.com - Ketika melihat Tottenham Hotspur saat ini, dua nama langsung diingat publik, mereka adalah Harry Kane dan Dele Alli. Wajar, keduanya merupakan talenta lokal yang menanggung banyak harapan publik Inggris untuk memberikan kesuksesan kepada The Three Lions di masa depan.

Laiknya jenderal perang, keduanya memang menjadi ujung tombak permainan Tottenham asuhan Mauricio Pochettino. Tapi ingat, baik Alli dan juga Kane, takkan bisa bermain baik jika tidak didukung oleh rekan setim lainnya laiknya Christian Eriksen, Moussa Dembele, Eric Dier, atau Son Heung-min.

Nama yang disebut terakhir bahkan terkesan underrated, karena berada di bawah bayang-bayang Kane. Publik seakan lupa jikalau Son telah mencetak 11 gol dan memberikan delapan assists dari total 38 laga yang dimainkannya musim ini. Jumlah itu memang tidak apa-apanya jika dibandingkan Kane. Tapi, kontribusi Son tidak kalah pentingnya dari pemain lainnya di Tottenham.

Melalui pergerakannya yang lincah di sisi sayap, direct saat melakukan penetrasi ke pertahanan lawan, serta kemampuannya mengolah bola, Son dapat menciptakan ancaman bagi lini belakang lawan dan membuka ruang bagi rekan setimnya. Namun Son, tetap merendah dengan peran pentingnya tersebut.

"Saya mencoba seperti mereka, tapi saya pikir tidak demikian. Harry dan Dele. Saya hanya memberitahu orang-orang bahwa saya bermain dengan mereka. Ini saja cukup bagi saya. Segala yang saya lakukan adalah berlatih setiap hari, tiap sesi latihan, dan berharap untuk terus belajar," ucap Son ketika diwawancara Dailymail, Minggu (25/2).

"Lihatlah Harry. Saya menyaksikannya berlatih dan dia mencetak gol dari berbagai arah, benar-benar gila. Saya ingin berada di level tersebut dan saya telah melakukan hal-hal yang bagus. Saya mencetak beberapa gol, tapi itu tidak semuanya, bukan begitu? Sepak bola lebih dari sekedar mencetak gol," terangnya.

Sonny -sapaan akrab Son- dengan ramahnya melayani tiap pertanyaan yang dilontarkan jurnalis Dailymail. Senyum lebar yang selalu menghiasi wajahnya senantiasa terlihat tiap kali dia berbicara. Memang begitulah sosok pria kelahiran Chuncheon, 8 Juli 1992.

Son tergolong pesepakbola asal Asia yang sukses menaklukkan Eropa. Kendati belum meraih satupun trofi, Son merupakan salah satu komoditas panas di bursa transfer pemain karena talenta bermainnya. Ia terkenal saat ini. Namun di masa lalu, Son juga melalui perjuangan sulit untuk mewujudkan mimpinya bermain di Eropa dan Premier League.

Pada usia 16 tahun, Son sudah merantau pergi meninggalkan Korea Selatan (Korsel) untuk pergi ke Inggris, tinggal di guest house, serta melakukan trial di Portsmouth dan Blackburn Rovers. Kala itu, Son benar-benar seorang diri tanpa satupun orang yang dikenalnya. Tinggal di negeri asing tanpa kolega, keluarga, pada usia 16 tahun bukanlah perkara mudah.

"Ya, saya tidak memiliki teman di sana, tidak ada keluarga dan saya tak bisa berbahasa bahasa (Inggris). Saya tidak tahu satupun kata. Saya sendiri dan takut, Anda tahu, sangat sulit waktu itu. Saya menjalani trial di Portsmouth dan juga Blackburn," ucap Son.

"Mereka menempatkan saya di guest house. Tapi saya waktu itu masih kecil dan tidak tahu apapun. Jadi, itulah ingatan pertama saya tentang Inggris dan itu kenangan yang buruk," kenangnya.

Urung lolos dari trial di Portsmouth dan Blackburn, lulusan akademi FC Seoul itu pun kembali merantau ke Jerman, dan kali ini diterima di akademi Hamburg. Dari sana, Son mengukir kariernya di Eropa dan perlahan menapaki tim utama Hamburg, sebelum pindah ke Bayer Leverkusen pada tahun 2013.

"Pergi ke Jerman itu sulit, seperti halnya saat berada di Portsmouth dan Blackburn. Semuanya membicarakan masa kini, tapi tidak ada satupun yang berpikir tentang Anda ketika Anda berusia 16 tahun dan meninggalkan negara Anda. Keputusan itu buruk dan berat, terberat," kata Son mengakui kesulitannya tersebut.

"Tapi saya harus membuat keputusan itu, karena kesempatan seperti itu tidak datang setiap hari. Saya tidak merasa siap -dan saya memang tidak siap- tapi saya ingin bermain di Eropa, dan suatu hari nanti, saya ingin bermain di Premier League. Saya memberitahu diri saya sendiri saya harus mencooba untuk mewujudkan mimpi menjadi kenyataan," terangnya.

Menapaki Jejak Park Ji-sung

Legiun Korsel yang bermain di Premier League memang banyak. Bahkan, kehadiran Song di Tottenham merupakan yang kedua bagi klub memiliki pemain asal Negeri Ginseng, setelah pada tahun 2005-2008 diperkuat full-back, Lee Young-pyo.

Akan tetapi, dari deretan pemain yang bermain di Premier League, belum ada yang setidaknya menyamai kesuksesan Park Ji-sung dengan Manchester United. Tujuh tahun bermain untuk Setan Merah bersama pemain sekaliber Ryan Giggs, Paul Scholes, Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, di bawah asuhan Sir Alex Ferguson, Park sukses meraih empat titel Premier League, tiga Piala Liga, empat Community Shield, satu Liga Champions, dan satu Piala Dunia Antarklub.

Tidak ada yang menyangka Park memberikan dampak besar kepada permainan Man United ketika diboyong dari PSG Eindhoven pada tahun 2005. Maklum, ada rumor Ferguson kala itu membelinya karena ingin memasarkan Man United lebih besar di pasar Asia. Berbekal determinasi bermain dan enerji yang tampaknya tidak terbatas, Park mampu mengemas 134 pertandingan untuk Man United.

Park masih menjadi idola meski telah gantung sepatu saat ini. Publik Korsel selalu menyambutnya dengan antusias ketika dia berada di sana. Begitu juga dengan Son saat ini. Ia selalu jadi magnet bagi jurnalis asal Korsel di Tottenham dan juga terkenal di negerinya sendiri. Tapi, Son kembali merendah.

"Saya tidak sepopuler itu. Skaters di Olimpiade saat ini benar-benar popular dan mereka pantas mendapatkannya. Mereka telah melakukannya dengan baik dan saya sangat bangga dengan Olimpiade di Korea Selatan. Ini penting untuk negara saya. Tapi, saya tidak sepopuler itu. Saya mencoba seperti kebanyakan pemain besar lainnya, tapi saya masihlah muda. Masih banyak hal yang harus dilakukan untuk mencapai level tersebut," tutur Son.

Ketika berbicara mengenai Park, Son pun tanpa ragu menyebutnya sebagai idola. "Saya tidak bisa dibandingkan dengan Ji. Dia seorang legenda dan idola saya. Mereka (publik Korsel) masih bangga dengannya. Sulit bagi pemain Asia bermain di Premier League. Saat ini pun masih sulit," tambah Son.

"Dan dia salah satu yang pertama melakukannya, jadi segalanya lebih sulit baginya. Saya masih berharap dapat bermain sepertinya dan menyatukan fans sepertinya, memiliki dampak sepertinya, tapi saya belum ada di sana."

"Dia berada di sini dan bermain konsisten selama tujuh atau delapan tahun. Saya harus menargetkan hal tersebut. Dia bermain di klub bersama Rooney, Ronaldo, dan Giggs, dan masih menjadi andalan tim," sambung Son.

Sebagai sesama warga Asia, kami mendukung Anda untuk sukses menaklukkan Premier League, Son.

Son heung-min Tottenham Hotspur Park ji sung gantung sepatu Mauricio Pochettino Korea selatan

Arief Hadi

Sports Journalist & Tactical Analyst. 10+ years of experience (ex-PanditFootball, BolaTotal, FourFourTwo, Fox Sports, 90min). Manchester United loyalist since 2004. Passionate about tactical breakdowns, gaming, and cinema. Exploring the world of football, one tweet at a time.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Liga Dunia
Parah, Mantan Pemain Timnas Inggris Tergilas Mesin Pemadat Rumput
Andros Townsend tergilas mesin pemadat rumput saat pemanasan bersama PT Prachuap. Beruntung, mantan pemain Inggris itu tidak mengalami cedera serius.
Arief Hadi - Senin, 21 September 2026
Parah, Mantan Pemain Timnas Inggris Tergilas Mesin Pemadat Rumput
Hasil akhir
Hasil Putaran Tiga Carabao Cup: Liverpool Singkirkan Tottenham, Arsenal Pesta Gol di Kandang Ipswich Town
Hasil Carabao Cup 2026/2027: Liverpool menang 3-1 atas Tottenham Hotspur, sedangkan Arsenal menaklukkan Ipswich Town 4-2 pada putaran ketiga.
Rizqi Ariandi - Rabu, 16 September 2026
Hasil Putaran Tiga Carabao Cup: Liverpool Singkirkan Tottenham, Arsenal Pesta Gol di Kandang Ipswich Town
Jadwal
Link Live Streaming Laga Besar Liverpool vs Tottenham, Main Sebentar lagi
Liverpool vs Tottenham di Carabao Cup segera dimulai. Simak jadwal, prediksi susunan pemain, H2H, dan link live streaming pukul 02.00 WIB.
Arief Hadi - Rabu, 16 September 2026
Link Live Streaming Laga Besar Liverpool vs Tottenham, Main Sebentar lagi
Jadwal
Cara Menonton dan Link Streaming Liverpool vs Tottenham, Live di Mana?
Simak cara menonton dan link streaming pertandingan Carabao Cup antara Liverpool vs Tottenham Hotspur di Anfield, Rabu (16/9) pukul 02.00 WIB.
Gazza Roosaryatama - Selasa, 15 September 2026
Cara Menonton dan Link Streaming Liverpool vs Tottenham, Live di Mana?
Hasil akhir
Hasil Pertandingan: AC Milan Nyaris Kalah, Tottenham Lupa Caranya Mencetak Gol
AC Milan comeback dari 0-2 menjadi 2-2 kontra Lazio. Tottenham kembali gagal mencetak gol saat ditahan Everton 0-0.
Arief Hadi - Minggu, 13 September 2026
Hasil Pertandingan: AC Milan Nyaris Kalah, Tottenham Lupa Caranya Mencetak Gol
Inggris
Gelar Juara Premier League Chelsea Musim 2016-2017 Seharusnya Dicabut, Diberikan kepada Tottenham Hotspur
Mauricio Pochettino menilai gelar Premier League 2016-2017 milik Chelsea seharusnya dicabut dan diberikan kepada Tottenham Hotspur.
Arief Hadi - Kamis, 10 September 2026
Gelar Juara Premier League Chelsea Musim 2016-2017 Seharusnya Dicabut, Diberikan kepada Tottenham Hotspur
Italia
Paradoks Bernama Randal Kolo Muani
Ditebus Juventus €40 juta, Randal Kolo Muani justru mencatat rating Sofascore terendah di Serie A setelah tiga pertandingan.
Arief Hadi - Selasa, 08 September 2026
Paradoks Bernama Randal Kolo Muani
Ragam
7 Transfer Pemain yang Menjadi Pembeda bagi Klub dalam Sejarah Premier League
Eric Cantona, Petr Cech hingga Sergio Aguero masuk daftar 7 transfer pemain yang menjadi pembeda dan mengubah sejarah Premier League.
Arief Hadi - Kamis, 03 September 2026
7 Transfer Pemain yang Menjadi Pembeda bagi Klub dalam Sejarah Premier League
Italia
10 Transfer Pemain Italia Termahal pada Bursa Transfer Musim Panas 2026
Sandro Tonali menjadi pemain Italia termahal usai pindah ke Tottenham. Simak daftar 10 transfer pemain Italia termahal musim panas 2026.
Arief Hadi - Kamis, 03 September 2026
10 Transfer Pemain Italia Termahal pada Bursa Transfer Musim Panas 2026
Italia
Eksodus Pemain Chelsea: Mudryk dan Adarabioyo Gabung Tottenham, Sanchez Hengkang ke Como
Chelsea melepas tiga pemain jelang deadline transfer 2026. Mudryk dan Adarabioyo gabung Tottenham, sementara Robert Sanchez pindah ke Como.
Arief Hadi - Selasa, 01 September 2026
Eksodus Pemain Chelsea: Mudryk dan Adarabioyo Gabung Tottenham, Sanchez Hengkang ke Como
Bagikan