Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Piala Eropa 2020: Italia, Evolusi Serie A, dan Revolusi Mancini

Pada Piala Eropa 2020, Italia tampil mengesankan, impresif, dan berbeda.
Yusuf AbdillahYusuf Abdillah - Minggu, 04 Juli 2021
Piala Eropa 2020: Italia, Evolusi Serie A, dan Revolusi Mancini
Roberto Mancini (fifa)
Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

BolaSkor.com - Selangkah lagi Italia tampil di partai puncak Piala Eropa 2020, dengan syarat mereka mampu menyingkirkan Spanyol pada duel semifinal di Stadion Wembley, Rabu (7/7) dini hari WIB.

Seiring waktu berjalan, pasukan Roberto Mancini menjelma menjadi unggulan pada turnamen. Performa apik yang ditampilkan sejak laga pertama, makin mengkilap pada laga-laga berikutnya. "Bukan Italia biasa".

Tak heran jika Italia adalah satu dari tiga tim yang melaju ke 16 besar dengan tiga kemenangan dan bersama Inggris belum kebobolan gol. Mereka mencetak tujuh gol, satu gol lebih sedikit dari Belanda. Mereka memiliki selisih gol paling meyakinkan (+7) dan tembakan terbanyak (46, tidak termasuk yang diblok).

Baca Juga:

Daftar Tim Semifinalis Piala Eropa 2020: Italia dan Inggris Paling Impresif

Jadwal Semifinal Piala Eropa 2020

11 Fakta Menarik Semifinal Piala Eropa 2020

Soal penguasaan bola? Hanya Spanyol dan Jerman yang memiliki penguasaan bola lebih tinggi daripada orang Italia. Sangat mengesankan, terutama untuk tim yang bahkan tidak lolos ke Piala Dunia terakhir di Rusia.

Pada Piala Eropa 2020, Italia tampil mengesankan, impresif, dan berbeda. Permainan Italia ofensif. Fakta yang sangat menarik dan mengesankan jika mengingat sejarah panjang rantai sepak bola mereka, yaitu permainan defensif dan reaktif.

Armada Roberto Mancini dihuni para pemain yang jauh dari status bintang. Di tim Italia saat ini, semua adalah pemain utama yang selalu siap memberi kontribusi maksimal demi tim.

Hanya tujuh dari 26 pemain yang merupakan pemain dari klub langganan papan atas di Italia. Empat di antaranya berada di Juventus dan dua Inter Milan, serta satu AC Milan. Anggota tim lainnya termasuk dari Sassuolo, Napoli, atau Atlanta.

Hal ini secara tidak langsung menjadi salah satu alasan kebangkitan Azzurri di bawah kepemimpinan Mancini.

Konsep klub domestik berpengaruh besar terhadap perubahan gaya permainan tim Azzurri. Serie A telah mengalami revolusi nyata dalam memahami bagaimana sepak bola modern harus dimainkan dalam beberapa tahun terakhir. Mancini telah menyadari bagaimana mentransfer perkembangan kompetisi domestik ini ke tim Italia.

Dalam dekade terakhir, sepak bola Italia telah mengalami salah satu periode terburuk dalam sejarah. Pada 2018, Italia gagal tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam 60 tahun. Serie A tidak menemukan cara untuk menandingi LaLiga dan Premier League.

Hampir setiap klub di Italia pernah atau terus mengalami semacam krisis. Masing-masing dari “Seven Sisters of Italian Football” yang populer memiliki masalah sendiri dalam hal identitas, struktur kepemilikan, keuangan, kepelatihan, dan pemain. Semua itu tercermin dalam hasil.

Selama satu dekade lebih, Serie A menjadi sebuah kompetisi yang hanya bisa dimenangkan oleh klub yang stabil secara finansial, Juventus. Italia juga sulit menemukan pemain muda lokal yang menarik. Semua ini telah menyebabkan kegagalan terbesar sepak bola Italia.

Serupa seperti Jerman di awal milenium, kegagalan besar telah menjadi sumbu perubahan paradigma. Individu dengan filosofi sepak bola yang berlawanan mulai muncul, sehingga Serie A tiba-tiba menjadi salah satu liga paling menarik, dengan mengorbankan beberapa klub kecil.

Perubahan filosofi yang disebutkan di atas tercermin dalam statistik. Tidak satu pun dari lima liga dalam delapan tahun terakhir memiliki rata-rata lebih dari tiga gol per pertandingan. Kecuali untuk Serie A, itu telah dilakukan dua kali dalam dua musim terakhir dan telah menjadi liga yang paling banyak mencetak gol per pertandingan.

Jumlah gol yang dicetak adalah indikator terbaik dari daya tarik dan kemajuan sepak bola, tetapi di antara elemen lain dari permainan sepak bola, tren kompetisi di Italia tiba-tiba berubah. Serie A telah menjadi liga dengan operan panjang dan duel udara paling sedikit, yang berarti bahwa fokus penyerangan telah beralih ke penguasaan bola dan operan pendek.

Selain itu, kerja sama antarpemain semakin manjadi warna permainan dengan jumlah percobaan dribel per pertandingan yang rendah, terendah dibandingkan lima liga besar lain.

Untuk periode yang lama, dari sisi pertahanan tidak banyak berubah dari Italia. Sempat sulit untuk menemukan tekanan garis tinggi papan atas. Atlanta adalah indikator bahwa situasinya semakin baik, dan publik dapat melihat tekanan dan pertandingan dengan intensitas tinggi di Italia semakin banyak.

namun karena klub-klub dan federasi Italia dikenal kurang melihat jauh ke depan dan terorganisir, perubahan-perubahan tersebut di atas tidak terjadi secara terencana dan sinkron seperti Jerman.

Meski demkian, faktanya tetap bahwa Serie A telah menjadi salah satu liga paling menarik. Namun, untuk menikmati sepenuhnya sepak bola atraktif yang ditawarkan Serie A, masih perlu penggalian lebih dalam, karena level tertinggi sepak bola Italia tidak akan mengalami perubahan positif.

Pelatih Italia sukses di Italia macam Antonio Conte dan Massimiliano Allegri, tidak banyak berkontribusi dalam revolusi sepak bola Italia. Selain menjadi pelatih Juventus, mereka semua memiliki sumber daya paling banyak untuk sukses. Mereka berdua adalah pelatih yang sangat pragmatis dan responsif. Taktik mereka berorientasi pada hasil, dan inovasi tidak penting bagi mereka. Ini cukup untuk Juventus.

Maurizio Sarri saat di Napoli dan Gianpiero Gasperini dari Atlanta adalah contoh paling menonjol dari sepak bola modern, progresif, dan menarik di Serie A. Kedua klub bukan yang kuat secara finansial Serie A, tetapi pelatih visioner mereka berhasil menemukan cara untuk melampaui ekspektasi saat bermain sepak bola yang menarik.


Evolusi dan Revolusi Mancini

Bagi Roberto Mancini, semua tidak dimulai di tempat kelahirannya di Iesi dekat garis pantai Adriatik, rumah masa kecilnya di Roccadaspide di barat daya pegunungan Italia, atau di ladang Genoa dan Roma di mana dia menjadi abadi. Semua dimulai di Bloor Street West.

Saat Piala Eropa 2020 Italia telah menjadi tim yang menonjol. Mereka menakutkan dalam serangan, bertahan dengan tenang, dinamis di mana-mana. Mereka telah terlahir kembali sebagai tim. Sebuah negara sepak bola terlahir kembali juga.

Bagi Mancini, ini semua kembali pada memperbaiki apa yang dia lihat sebagai kesalahan paling parah dalam kariernya. Di Stadion Varsity Toronto Kanada, pada Sabtu sore yang berangin di akhir Mei 1984, Mancini remaja melakukan debutnya sebagai pemain pengganti saat turun minum. Saat itu juara dunia Italia, di bawah pelatih ikonik Enzo Bearzot.

Namun beberapa hari kemudian, menjelang putaran kedua tur Amerika Utara mereka di Stadion Giants, New York, Amerika Serikat, Mancini yang berusia 19 tahun, pergi dugem di Studio 54 Manhattan. Dia di sana sampai malam menjadi siang. Alhasil dia diusir dari tim.

Sejak saat itu, hubungan Mancini dan timnas Italia tidak harmonis. Saat dia gemilang bersama Sampdoria dan Lazio, Mancini tidak mendapatkan posisi tetap, dia keluar dan masuk Gli Azzurri. Dia tidak akan pernah bermain di Piala Dunia.

“Saya merasa itu tidak masuk akal, bahkan jika sebagian besar dari itu adalah kesalahan saya sendiri,” ujar Mancino dalam sebuah wawancara.

Baca Juga:

Sederet Fakta Fantastis Italia Melaju ke Semifinal Piala Eropa 2020

3 Alasan Italia Bikin Spanyol Empot-empotan di Semifinal Piala Eropa 2020

Alternatif Taktik Italia Usai Perjalanan Spinazzola Berakhir

Ketika sepak bola Italia mencapai titik terendah setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2018, kesempatan untuk menebus absurditas muncul dengan sendirinya. Mancini mungkin awalnya tidak tampak cocok, tetapi dalam hal pelatih dan tim yang berangkat bersama di jalan menuju penebusan, itu adalah pertarungan emosional.

Tiga tahun evolusi dan revolusi berjalan. Rekor sempurna hingga lolos ke semifinal Piala Eropa 2020 dan rekor tak terkalahkan. “Ini adalah sesuatu yang membuat kami bangga, terutama mengingat apa yang mereka pikirkan tentang kami sebelum turnamen dimulai,” kata penyerang Lorenzo Insigne.

“Tetapi kami harus tetap fokus, tenang dan memikirkan diri kami sendiri. Kami belum melakukan apa-apa.”

Ini adalah Italia. Revolusi mulai tampak hasilnya. Mentalitas defensif dan hati-hati yang seharusnya ada dalam DNA tidak terlihat. Tidak ada pragmatisme.

Mancini, pada usia 56 tahun, dia lebih tenang, bahkan tanpa beban. Dia memaksimalkan semua yang dimiliki. “Penting untuk mengetahui apa yang Anda miliki di tangan Anda,” katanya sebelum turnamen.

"Untuk mengetahui apa cara terbaik untuk menang dengan apa yang Anda miliki.”

Dia merancang sistem di mana pertahanan proaktif, mendorong, dan menekan lebih tinggi di lapangan. Skema yang mendapatkan dukungan penuh para pemainnya. Semua pemain berkontribusi. Mancini menggunakan 25 dari 26 pemainnya di babak penyisihan grup.

“Penting bahwa identitas tim tetap sama, karena mengganti tiga atau empat pemain tidak akan membuat perbedaan,” katanya setelah menang 1-0 atas Wales.

“Mereka semua tahu apa yang harus dilakukan dan produk akhirnya tidak berubah.”

Piala Eropa 2020 dibuka di Roma dengan Andrea Bocelli membawakan lagu “Nessun Dorma” yang menggetarkan jiwa. Itu menandai awal dari evolusi revolusi Mancini. “Saya berharap bisa meninggalkan momen bahagia untuk para suporter, momen bahagia yang bisa mereka ingat selama bertahun-tahun,” kata Mancini.

Simak Rangkuman keseruan Piala Eropa 2020 di sini

Piala Eropa 2020 Roberto Mancini Breaking News

Yusuf Abdillah

Jurnalis olahraga dan editor senior dengan spesialisasi sepak bola dunia. Pengalaman di media lebih dari 15 tahun. Lulusan Universitas Indonesia. Mengawali karier sebagai reporter di Tabloid Soccer (Kompas Gramedia Group). Sebelum bergabung dengan BolaSkor.com, pernah berkarier di beberapa media besar Indonesia seperti BeritaSatu dan Suara.com. Pernah meliput beberapa event besar seperti UEFA Euro 2008.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Inggris
Termasuk Spanyol Pemenang Piala Dunia, 4 Pola yang Diyakini Jadi Sinyal Manchester United Juara Premier League
Empat pola menarik kembali terulang menjelang musim 2026/2027, mulai dari Spanyol juara Piala Dunia, Jose Mourinho di Real Madrid, hingga Arsenal sebagai juara bertahan Premier League. Benarkah ini menjadi sinyal Manchester United bakal juara Liga Inggris?
Johan Kristiandi - Rabu, 22 Juli 2026
Termasuk Spanyol Pemenang Piala Dunia, 4 Pola yang Diyakini Jadi Sinyal Manchester United Juara Premier League
Piala Dunia
5 Kandidat Pemenang Ballon d'Or 2026 Setelah Piala Dunia Berakhir: Messi Masuk Daftar, Rodri Punya Peluang
Persaingan Ballon d'Or 2026 semakin memanas setelah Piala Dunia 2026 berakhir. Lionel Messi, Rodri, Kylian Mbappe, Harry Kane, dan Lamine Yamal masuk daftar kandidat terkuat peraih penghargaan bergengsi tersebut.
Johan Kristiandi - Rabu, 22 Juli 2026
5 Kandidat Pemenang Ballon d'Or 2026 Setelah Piala Dunia Berakhir: Messi Masuk Daftar, Rodri Punya Peluang
Inggris
Jadwal Pertandingan Pramusim Manchester United: Jajal PSG hingga AC Milan
Manchester United telah merilis jadwal pertandingan pramusim 2026/2027. Setan Merah akan menghadapi Rosenborg, Atletico Madrid, PSG, Leeds United, dan AC Milan sebagai persiapan menyambut musim baru.
Johan Kristiandi - Rabu, 22 Juli 2026
Jadwal Pertandingan Pramusim Manchester United: Jajal PSG hingga AC Milan
Spanyol
Cristian Romero Jadi Rebutan Inter Milan dan Barcelona
Cristian Romero menjadi incaran Inter Milan dan Barcelona pada bursa transfer musim panas 2026. Simak peluang transfer bek Timnas Argentina tersebut, harga yang diminta Tottenham Hotspur, serta perkembangan terbarunya.
Johan Kristiandi - Rabu, 22 Juli 2026
Cristian Romero Jadi Rebutan Inter Milan dan Barcelona
Inggris
Manchester United Rilis Jersey Tandang Musim 2026/2027, Warna Biru dan Dihiasi Aliran Sungai
Manchester United resmi meluncurkan jersey tandang musim 2026/2027. Jersey anyar berwarna royal blue ini terinspirasi desain klasik 1988, dilengkapi motif River Irwell, logo Adidas Trefoil, dan material ramah lingkungan.
Johan Kristiandi - Rabu, 22 Juli 2026
Manchester United Rilis Jersey Tandang Musim 2026/2027, Warna Biru dan Dihiasi Aliran Sungai
Spanyol
Melihat Wajah Baru Vinicius Junior Setelah Operasi Dagu, Tambah Ganteng dan Bikin Pangling
Vinicius Junior tampil dengan wajah baru usai menjalani prosedur harmonisasi dagu setelah Piala Dunia 2026. Simak perubahan penampilan bintang Real Madrid tersebut serta perkiraan biaya prosedurnya.
Johan Kristiandi - Rabu, 22 Juli 2026
Melihat Wajah Baru Vinicius Junior Setelah Operasi Dagu, Tambah Ganteng dan Bikin Pangling
Liga Indonesia
Breaking News! Nadeo Argawinata Resmi Gabung Persija, Dikontrak 5 Tahun
Nadeo Argawinata resmi berlabuh ke Persija Jakarta dengan kesepakatan transfer yang juga mengirimkan dua pemain muda Persija ke Borneo FC.
BolaSkor - Rabu, 22 Juli 2026
Breaking News! Nadeo Argawinata Resmi Gabung Persija, Dikontrak 5 Tahun
Inggris
John Stones Masuk Radar Chelsea, The Blues Siapkan Perombakan Lini Belakang
Chelsea dikabarkan tertarik merekrut bek senior Inggris, John Stones, yang kini berstatus bebas transfer setelah kontraknya bersama Manchester City berakhir.
Yusuf Abdillah - Rabu, 22 Juli 2026
John Stones Masuk Radar Chelsea, The Blues Siapkan Perombakan Lini Belakang
Inggris
Diminati Tottenham, Chelsea, dan Arsenal, Rashford Condong Bertahan di MU
Meski sempat santer dikabarkan akan hengkang pada bursa transfer musim panas 2026, Marcus Rashford kini justru berpeluang bertahan di Old Trafford.
Yusuf Abdillah - Rabu, 22 Juli 2026
Diminati Tottenham, Chelsea, dan Arsenal, Rashford Condong Bertahan di MU
Italia
Peluang Guardiola Latih Italia Makin Terbuka, Gaji Bukan Lagi Menjadi Penghalang
Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Giovanni Malago, mengakui bahwa pihaknya siap membuat pengecualian soal anggaran demi mendatangkan Pep Guardiola
Yusuf Abdillah - Rabu, 22 Juli 2026
Peluang Guardiola Latih Italia Makin Terbuka, Gaji Bukan Lagi Menjadi Penghalang
Bagikan