BolaSkor.com - Paris Saint-Germain (PSG) mengikuti jejak Real Madrid sebagai juara bertahan yang mempertahankan titel Liga Champions.
Di final yang dimainkan di Puskas Arena, Sabtu (30/05) malam WIB, PSG menang adu penalti 4-3 atas Arsenal setelah laga imbang 1-1 di waktu normal.
Pertandingan berjalan satu arah yang dapat dilihat dengan 72 persen penguasaan bola PSG, total melepaskan 19 tendangan (empat tepat sasaran).
Baca Juga:
Hasil Final Liga Champions: Tekuk Arsenal Lewat Adu Penalti, PSG Kembali Juara
Prediksi 3 Pandit dan 1 Pemain Top Eropa soal Final Liga Champions PSG vs Arsenal
Arsenal hanya memiliki 28 persen penguasaan bola serta melepaskan lima tendangan, satu tepat sasaran. Pada akhirnya, Arsenal urung mengakhiri penantian titel Eropa pertama mereka.
Permainan Bertahan Arsenal
Salah satu fans Arsenal, Eddi Brokoli, melihat Arsenal telah bermain bagus dan terorganisir dalam menghadapi PSG dengan permainan ofensif serta mengandalkan penguasaan bola yang bagus.
Eddi melihat hal positif dari Arsenal yang menepis prediksi akan dibantai oleh PSG di final, hingga laga harus ditentukan di adu penalti dan di fase itu, peluang kedua tim sama kuat untuk jadi juara.
"Hal positif karena semua orang bilang, kita (Arsenal) bakal dibantai PSG yang sangat jago menyerang tapi kan kita memang jago bertahan di Liga Champions, dan terbukti 72-28 (penguasaan bola), 11 corner PSG tidak menghasilkan apa-apa," tutur Eddi di acara nobar final Liga Champions di Velodrome.
"Satu-satunya gol PSG dihasilkan dari penalti, ya udah bagus banget ketika hasilnya harus ditentukan dari adu penalti, itu memang tos-tosan, ya sudah."
Eddi juga melihat tidak mudah untuk Arsenal keluar dan bermain menyerang, melawan PSG arahan Luis Enrique yang sangat bagus dalam permainan tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Eddi juga menyindir haters Arsenal yang mengkritik permainan Arsenal terlalu mengandalkan situasi bola mati (set piece).
"Set piece kan datangnya dari serangan, enggak mungkin dari bertahan ya kan? Tadi, PSG 11 corner, datangnya darimana? Dari serangan," tegas Eddi.
"Jadi ya Justinus Lhaksana, temen gue itu, dia bilang Arsenal beruntung doang mainnya cuma andelin set piece."
"Bukan cuman, set piece datengnya dari serangan, Arsenal jago mengonversi set piece menjadi gol, tidak seperti PSG barusan, dapet 11 corner ga ada satu pun yang berbuah gol."
Jadi bukan cuman andelin set piece, ketika musuh lo low block seperti Arsenal barusan, karena PSG gila serangannya, enam di depan itu mau gimana, ya lo harus main bertahan, mau gimana lagi? Lo terbuka ya kelar.
"Nah dengan lawan low block, lo nyerang terus lo dapat set piece. Arsenal bukan cuma mengandalkan set piece, tapi juga bisa mengonversi set piece menjadi gol," urainya.