Jakarta – Sama-sama paling produktif dan sedang on fire, duel Liverpool dan Manchester City di Anfield (13/4) dipastikan berlangsung panas selagi sengit. Sebelum itu, menarik melihat peta kekuatan antar lini dari masing-masing kubu.
Meski belum menentukan apa-apa, hasil laga ini akan tetap berpengaruh besar pada peta persaingan perebutan gelar juara Premier League musim ini. Pada 2011-12, City mengalahkan Manchester United di periode seperti ini dan memuluskan langkah mereka meraih gelar hanya dengan unggul selisih gol.
Ketajaman The Reds dan The Citizen musim ini tak perlu diragukan lagi. Namun tanpa organisasi antar lini yang ciamik, tim besutan Brendan Rodgers dan Manuel Pellegrini tak mungkin mencapai posisi saat ini. Berikut bedah antar lini jelang Liverpool vs Manchester City dalam pendekatan statistik (EPL Index).
Selanjutnya: lini belakang
Lini Belakang
Catatan Liverpool dalam bertahan kurang impresif, dengan kebobolan 40 kali dari 33 pertandingan. Rodgers melakukan pembelaan dengan menyebut ragam cedera pemain di lini ini berpengaruh besar karena hanya Martin Skrtel selalu bugar dan tampil reguler. Namun nyatanya lini belakang Si Merah kerap melakukan kesalahan fatal, statistik membuktikan zona belakang Liverpool sudah membuat 34 error sejauh musim ini.
Manchester City baru kebobolan 29 kali dari 31 partai yang telah mereka mainkan, atau rata-rata kebobolan per laga hanya 0,88. Sejauh ini barisan pertahanan City telah melepas 612 tackle dengan rataan sukses mencapai 76,97%. Bek City juga sudah 419 kali memotong bola, tim Manchester Biru juga sudah mencatat 13 clean sheets sejauh ini.
Selanjutnya: lini tengah
Lini Tengah (Steven Gerrard vs Yaya Toure)
Kapten Liverpool lagi-lagi berhasil memimpin lini tengah dan punya peran krusial dalam performa gemilang timnya. Dengan 13 gol, 11 di antaranya dari penalti, dan sembilan assist, membuat Gerrard kembali membuktikan pengaruh besarnya di lapangan. Skipper timnas Inggris ini sekarang bermain lebih ke dalam, beda dengan musim-musim sebelumnya yang dibebaskan bergerak dari posisi aslinya, atau free role. Stevie G sudah 57 kali membuat peluang, dan rata-rata membuat satu peluang tiap 43 passing, serta suksesnya operannya mencapai 81,69%. Dalam situasi bertahan, Gerrard juga berperan signifikan, di antaranya saat lawan Fulham, Manchester United dan West Ham akhir pekan kemarin. Jika Jordan Henderson dan Raheem Sterling lebih banyak berlari, maka Gerrard berperan sebagai pengatur tempo dengan umpan-umpan terukurnya.
Tak bisa dipungkiri, pemain terbaik Manchester City sejauh ini adalah Yaya Toure. Peran vitalnya tercermin dari jumlah gol, assist, rata-rata nilai per laga, serta kemampuan menusuk ke kotak penalti yang sangat efisien. Musim ini Toure sudah mencetak 18 gol, dengan rata-rata satu gol tiap 144 menit. Dari lima assist, Toure sudah menciptakan 32 peluang. Pemain asal Pantai Gading ini begitu padu dengan Fernandinho, keduanya sangat lihai dalam mematahkan serangan lawan di lini tengah yang secara tak langsung berdampak pada daya gempur tim. Ketika Toure dan Fernandinho sedang dalam penampilan terbaiknya, City biasanya menang tanpa kebobolan.
Selanjutnya: lini depan
Lini Depan
Liverpool dan Manchester City membebaskan pergerakan pemain di lini depan. Kedua kubu punya rata-rata mencetak tiga gol per laga. Predikat paling produktif milik The Reds sangat terbantu oleh duet penyerangnya, Luis Suarez dan Daniel Sturridge yang sudah mengemas 49 gol. Gerrard sebagai eksekutor penalti juga telah menghasilkan 13 gol. Dengan Coutinho, Sterling dan Henderson sebagai pencatat assist, kekuatan utama Liverpool musim ini terletak pada lini depan.
City juga punya daya gedor mumpuni, dengan 84 gol dari 31 pertandingan sejauh ini. Sergio Aguero, Alvaro Negredo dan Edin Dzeko telah menghasilkan 35 gol, sementara Samir Nasri, David Silva dan Jesus Navas menyumbang 15 gol dari lini tengah. Melihat fakta Aguero lebih banyak cedera sepanjang musim ini dan produktifitas City tetap terjaga, maka kesimpulan yang didapat adalah kedalaman skuat Pellegrini sangat mumpuni.

