BolaSkor.com - Madura United seharusnya tengah menikmati momen kebangkitan yang luar biasa di kompetisi musim ini. Setelah sempat terpuruk dan berjuang mati-matian menghindari zona degradasi dalam dua musim terakhir, Laskar Sape Kerrab kini tampil trengginas.
Rekor sempurna dicatatkan dengan menyapu bersih tiga pertandingan awal lewat tiga kemenangan beruntun. Namun, di tengah gemuruh suka cita, atmosfer di dalam tim justru diselimuti awan duka yang mendalam.
Kebangkitan Madura United harus dibayar dengan rasa kehilangan yang teramat besar atas berpulangnya dua sosok paling setia di tribun suporter.
Baca Juga:
Hasil Super League 2026/2027: Arema-Persik Imbang, Madura United Masih Sempurna
Badai duka pertama menerpa keluarga besar Madura United ketika salah satu suporter loyalnya, Mimit Tirmidzi, berpulang pada 10 September lalu. Kepergian Cak Mimit meninggalkan lubang di hati rekan-rekan sesama suporter dan para penggawa Laskar Sape Kerrab.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir atas dedikasinya, seluruh pemain dan official tim memberikan tribut khusus usai laga melawan PSIM Yogyakarta tadi malam.
Kemenangan demi kemenangan yang diraih di atas lapangan hijau malam itu dipersembahkan sepenuhnya untuk mengenang jasa dan kecintaan Cak Mimit pada klub kebanggaan Pulau Garam tersebut.
Daftar Isi
Gugurnya Sang Legenda Tribun, Mbah Hosen
Daftar Isi
Belum genap reda air mata kesedihan, duka kembali menghantam suporter Madura United di malam yang sama. Saat tim merayakan kemenangan dari PSIM Yogyakarta, Mbah Hosen—sosok ikonik suporter Madura United—tengah berjuang melawan detik-detik akhir hidupnya.
Di usia senjanya, kesetiaan Mbah Hosen tidak pernah luntur. Ketika banyak suporter memilih menepi dan meninggalkan tim saat Madura United terpuruk di zona merah musim-musim lalu, Mbah Hosen justru menjadi karang yang kokoh. Ia tetap berdiri tegak di tribun suporter, meneriakkan dukungan penuh demi membakar semangat para pemain.
Semalam Mbah Hosen masih datang ke Gelora Madura Ratu Pamelingan, Pamekasan. Tarian khasnya masih mengiringi perjuangan Pendro Monteiro di dalam lapangan.
Baca Juga:
Namun di awal babak kedua, Mbah Hosen sempat mengeluhkan pusing sebelum akhirnya dijemput oleh ambulans. Sempat mendapatkan perawatan darurat di ruang medis stadion, ia kemudian dilarikan ke rumah sakit.
Sayangnya takdir berkata lain, Mbah Hosen akhirnya menutup usia, menyusul jejak Cak Mimit ke tempat peristirahatan terakhir.
Semalam kami menang, semalam pula Mbah Hosen berpulang. Beliau suporter tertua kami, sejak Madura United baru ada,
ucap Presiden Madura United, Achsanul Qosasi.
"Selalu berdiri di tribun bawah skor, lengkap dengan atribut Madura. Berjoget sepanjang pertandingan tanpa peduli usia. Dalam sembilan hari, tribun ini kehilangan dua penjaganya. Berat rasanya," imbuhnya.
Manajemen, pemain, dan seluruh official Madura United merasakan duka mendalam dan kehilangan yang sangat besar atas kepergian dua loyalisnya. Cak Mimit dan Mbah Hosen bukan sekadar penonton; mereka adalah bagian dari denyut nadi sejarah klub.
Kini, setiap tiga poin yang diraih Madura United di lapangan bukan lagi sekadar catatan statistik, melainkan sebuah perjuangan emosional. Perjuangan untuk membawa nama Madura United terbang tinggi dan berprestasi. Bukan lagi berjuang di zona degradasi. (Arjuna Pratama)