Blatter: Pengurangan Poin Sanksi Tepat untuk Rasisme
Zurich - Presiden FIFA, Sepp Blatter, menganggap sanksi untuk menghukum suporter rasis lebih efektif dalam bentuk pengurangan poin tim yang bersangkutan, ketimbang menggelar pertandingan tertutup.
Alasannya, sanksi pengurangan poin lebih bersifat kolektif karena mereka yang tidak bersalah juga bakal merasa terhukum.
“Menggelar pertandingan sepak bola tanpa kehadiran penonton ibarat menggelar konser tanpa suara,” kata Blatter dalam kolom mingguannya di FIFA Weekly.
“Sanksi (penutupan stadion) ini masuk dalam peraturan FIFA, tapi bentuk sanksi ini terlalu berlebihan.”
Pada penyisihan Piala Dunia FIFA pernah menerapkan sanksi tersebut lantaran ada suporter yang menirukan suara monyet serta memeragakan penghormatan ala Nazi. Otoritas tertinggi sepak bola Eropa (UEFA) juga pernah melakukan hal serupa.
Dalam peraturan Komite Disiplin FIFA memang terdapat beberapa sanksi, seperti penutupan stadion, pengurangan poin, hingga pencoretan dari turnamen. Bagi Blatter, sanksi harus membuat klub jera dan opsi yang paling tepat adalah untuk dipertimbangkan adalah pengurangan poin.
11.190
Berita Terkait
Belanja Transfer Pemain 2025 Capai Rp219 Triliun, Tertinggi Sepanjang Sejarah
Mantan Presiden FIFA Dukung Seruan Boikot Piala Dunia 2026 di AS
Hukuman Tujuh Pemain Naturalisasi Malaysia Ditangguhkan Pengadilan
FIFA Perkenalkan Inovasi Berbasis AI Jelang Piala Dunia 2026
Termasuk Thoriq Alkatiri, 15 Wasit Indonesia Masuk Daftar Wasit FIFA 2026
Negara Kayamba Gumbs Konfirmasi Jadi Peserta FIFA Series 2026 di Indonesia
FIFA Uji Teknologi Baru untuk Bola Keluar Lapangan dan Offside
FIFA Naikkan Hadiah Uang Piala Dunia 2026, Juara Akan Raup Rp834 Miliar
Jadi Kiper Terbaik FIFA 2025, Gianluigi Donnarumma Bidik Banyak Trofi di Manchester City
FIFA Umumkan Jadwal Piala Dunia 2026, Banyak Laga Tengah Malam dan Jam Kantor