Menurut Marlan, salah seorang pegawai stadion, peremajaan yang sedang berlangsung sekarang merupakan yang terbesar sejak 1983. "Terhitung sudah kali ketiga renovasi dilakukan semenjak saya bertugas di stadion ini pada tahun 1983." Ucap Marlan. Menurutnya, perbaikan pernah dilakukan pada 1996. Kala itu, lapangan kerap tergenang banjir sehingga harus dilakukan peninggian lahan sebanyak 60cm. "Setiap hujan turun, lapangan bisa tergenang selama seminggu." Kenangnya.
Perbaikan kedua dilakukan sekira lima tahun lalu berupa penggunaan lantai keramik di beberapa bagian stadion serta perbaikan saluran air yang menuju Jalan Biak. "Renovasi sekarang adalah yang paling besar." Ujar Marlan. Kusen-kusen lawas yang terbuat dari kayu diganti dengan alumunium, aplikasi granit di tribun penonton, serta pengadaan genset sebagai sarana pendukung kelistrikan stadion.
Arena laga para pesepakbola pun tak luput dari perbaikan. Pembuatan resapan air setiap empat meter tengah dilakukan berbarengan dengan penanaman rumput baru jenis Zoysia Matrella (Linn) Merr, rumput kasta wahid standar FIFA. Menurut salah seorang pekerja, rumput ini pula yang digunakan di Gelora Bung Karno dan beberapa stadion besar lainnya.
Lapangan yang dibangun pada 1928 ini tak pernah sepi peminat. Marlan sempat bercerita beberapa instansi pemerintah sering bermain di stadion VIJ. "Tiap hari ada saja yang bermain bola di sini." Imbuhnya.
Stadion VIJ tak bisa dilepaskan dari sejarah terbentuknya pasukan jingga dari Batavia. Nama Voetbalbond Indonesische Jacatra resmi dipergunakan sejak 1928 hingga 1950 berganti nama menjadi Persija.