BolaSkor.com - Untuk gelaran Piala Dunia 2026, FIFA mengubah sejumlah aturan pertandingan. Salah satunya memberi kewenangan kepada wasit untuk membatalkan gol yang diawali pelanggaran sebelum bola dimainkan dalam situasi bola mati.
Taktik mencetak gol dari bola mati merupakan bagian penting dari sepak bola belakangan ini, terutama di Premier League.
Namun, pada Piala Dunia 2026, tim kemungkinan akan lebih sulit untuk mencetak gol lewat skema bola mati, seperti tendangan sudut.
Baca Juga:
Virgil van Dijk Kirim Sinyal Bahaya, Belanda Siap Gegerkan Piala Dunia 2026
Kabar Piala Dunia 2026: Polisi Toronto Sita Belasan Ribu Merchandise Sepak Bola KW
Berpacu dengan Waktu, Top Skorer Sepanjang Masa Timnas Belanda Jelang Piala Dunia 2026

FIFA dan Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) memperkenalkan aturan "anti-blocking", pada Piala Dunia 2026.
Jika pelanggaran terjadi tepat sebelum bola dimainkan, kami yakin tidak ada yang bisa mengajukan keberatan,
kata Kepala Wasit Pierluigi Collina.
Ia mengatakan FIFA dan IFAB memperluas kewenangan video assistant referee (VAR) dalam meninjau pelanggaran sebelum bola dimainkan.
IFAB disebut mendukung percepatan penerapan aturan baru tersebut menyusul meningkatnya kontroversi duel fisik, tarik-menarik, dan blok pemain saat situasi bola mati di berbagai kompetisi.
Collina mengatakan bahwa dalam pertandingan para wasit akan diminta lebih waspada terhadap praktik-praktik semacam itu, terutama dari tim yang kerap menggunakan pola blok atau duel fisik untuk membuka ruang saat tendangan sudut maupun tendangan bebas.
Dalam aturan baru tersebut, VAR dapat merekomendasikan peninjauan ulang di lapangan jika terdapat pelanggaran jelas oleh tim penyerang sebelum bola dimainkan dan pelanggaran itu berdampak langsung terhadap gol.
Jika wasit memutuskan pelanggaran memang terjadi sebelum bola dimainkan, maka gol dapat dibatalkan dan situasi bola mati akan diulang sesuai keputusan pertandingan.
Larangan Pemain Kumpul dengan Pelatih saat Kiper Cedera

Selain aturan terkait bola mati, FIFA juga berupaya membatasi taktik memanfaatkan cedera pemain untuk menghentikan momentum pertandingan dan memberi kesempatan pelatih menyampaikan instruksi di tengah laga.
"Mereka (para wasit) tidak akan mengizinkan kedua tim untuk pergi ke bangku cadangan ketika seorang kiper tergeletak di karena cedera," kata Pierluigi Collina
Meski tidak disertai sanksi kartu, Collina menegaskan para wasit akan bertindak proaktif untuk mencegah tim mengambil keuntungan tidak adil dari situasi cedera pemain.
Fenomena jeda taktis saat kiper cedera memang menjadi sorotan dalam beberapa tahun terakhir. Situasi tersebut kerap dimanfaatkan pelatih untuk memberikan instruksi tambahan kepada pemain atau menghentikan momentum permainan lawan.
Salah satu contohnya terjadi pada November 2025. Pelatih Leeds United, Daniel Farke, menuding kiper Manchester City, Gianluigi Donnarumma, berpura-pura cedera demi mengulur waktu dan mengganggu ritme pertandingan.
Dalam situasi seperti itu, kiper biasanya duduk di lapangan sambil meminta bantuan fisioterapis. Pada saat yang sama, pemain lain mendekati area teknis untuk menerima arahan dari pelatih. Setelah instruksi selesai diberikan, pertandingan pun kembali dilanjutkan.
Selain itu, FIFA juga meminta wasit untuk lebih ketat dalam hal usaha tim mengulur waktu.
Sekarang ada batas waktu lima detik untuk lemparan ke dalam. Jika mengulur waktu melebihi itu, jatah lemparan ke dalam akan diberikan untuk tim lawan.
Batas waktu lima detik jika diberikan untuk tendangan gawang. Jika kiper membuang waktu, maka diganjar hukuman sepak pojok untuk lawan
Kemudian soal pergantian pemain. Pemain yang akan diganti punya waktu 10 detik untuk meninggalkan lapangan ke tepi terdekat. Jika lebih dari itu, pemain dari bench harus menunggu satu menit untuk bisa masuk dan timnya harus main dengan 10 orang.