Analisis Final Liga Champions - Sebelum Laga Dimulai, Tuchel Sudah 'Mengalahkan' Guardiola

Pep Guardiola sudah tiga kali beruntun dikalahkan oleh Thomas Tuchel.
Arief HadiArief Hadi - Minggu, 30 Mei 2021
Analisis Final Liga Champions - Sebelum Laga Dimulai, Tuchel Sudah 'Mengalahkan' Guardiola
Pep Guardiola dan Thomas Tuchel (Twitter)
Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

BolaSkor.com - 24 jam sebelum final Liga Champions 2020-2021 antara Chelsea melawan Manchester City di Estadio Do Dragao, Minggu (30/05) dini hari WIB, manajer City Pep Guardiola telah berbicara mengenai taktik Chelsea.

"Mengapa Chelsea bermain sangat bagus ... karena mereka memiliki tiga bek tengah yang dekat, dua gelandang bertahan yang bergerak dalam jarak dekat, jaraknya sangat dekat, striker dan dua (pemain ofensif) sangat, sangat dekat," kata Guardiola kepada BT Sport.

"Jaraknya sangat dekat, dan pada saat yang sama mereka begitu lebar dengan bek-bek sayap, mereka sangat bagus dengan bola di belakang (membangun serangan dari belakang)."

Baca Juga:

Rating Pemain Chelsea dan Man City: Kante Fantastis, Sterling 'Hilang'

Menilai Performa Rekrutan-rekrutan Anyar Chelsea di Musim 2020-2021

Taktik Tanpa Striker Murni City Dikritik, Guardiola Angkat Bicara

Pep Guardiola

"Itulah mengapa Anda tidak bisa dekat karena mereka mendorong (pressing) Anda (bermain melebar) dan mereka memiliki banyak pemain bagus di tengah. Itulah mengapa sulit untuk menghadapi tim yang menginginkan bola dan ingin bermain dengan bola. Kami telah mencoba melakukannya sejak hari pertama."

Secara teori penggambaran Guardiola sudah tepat mengenai permainan dan taktik Chelsea pada formasi 3-4-2-1 sejak Thomas Tuchel datang melatih pada Januari, menggantikan Frank Lampard. Guardiola sudah mengetahui dan menganalisisnya.

Akan tapi setelah menelan dua kekalahan beruntun di Piala FA (0-1) dan Premier League (1-2), Man City-nya Guardiola kembali kalah 0-1 di final Liga Champions dari gol tunggal Kai Havertz di menit 42. Mengapa demikian? Apakah Guardiola tidak belajar dari kesalahan?

Perang Belum Dimulai, Thomas Tuchel Sudah Menang

"Kami telah menduganya, saya memprediksi Fernandinho memulai laga jadi dia (Guardiola) memilih lineup yang ofensif. Lineup yang sangat taktis," ucap Tuchel mengomentari pilihan taktik sang lawan.

"Segalanya kurang atau lebih telah kami prediksi. Sangatlah penting kami cepat bangkit dan tetap memulai blok dari lima pemain di depan."

Prediksi Tuchel sedikit salah mengenai Fernandinho. Dia jadi pemain cadangan dan Guardiola, pada taktik 4-3-3, memainkan pemain-pemain ofensif dari Riyad Mahrez, Kevin De Bruyne, Raheem Sterling, Bernardo Silva, Phil Foden tanpa striker murni.

Lalu Ilkay Gundogan menjadi gelandang sentral dengan peran lebih defensif (jangkar permainan). Taktik yang terbilang nekat jika mengingat potensi serangan balik Chelsea, tetapi Guardiola telah memperhitungkannya.

Formasi di atas kertas Chelsea dan Man City (Foto: Whoscored)

Pada sisi itulah Guardiola disinyalir mendapatkan 'hukuman' atau konsekuensi karena terlalu memikirkan perjalanan kariernya di Eropa, membandingkan kesuksesan terakhirnya sebagai pelatih kala membawa Barcelona juara Liga Champions 10 tahun silam.

Analisis Guardiola soal taktik Tuchel di Chelsea, bagaimana City bermain dengan taktik 4-3-3 itu telah diperhitungkannya, tetapi Guardiola tak punya cara lain selain tetap bermain ofensif dan coba mengambilalih penguasaan bola.

Begitulah Guardiola dikenal di Eropa dan dunia: pelatih dengan filosofi sepak bola ofensif dan menghibur penonton. Guardiola sudah dikalahkan Tuchel dua kali sebelumnya dan ia tetap memainkan permainan ofensif. Kali ini tanpa penyerang murni.

Sergio Aguero dan Gabriel Jesus fit tetapi keduanya di bangku cadangan dan baru turun di babak kedua. Taktik Guardiola dipertanyakan tapi ia menjawabnya dengan tegas.

"Saya melakukan apa yang saya pikir sebagai keputusan terbaik (soal pemilihan pemain). Ada tiga atau empat momen dengan umpan silang dari garis pinggir tetapi kami tidak sampai," terang Guardiola kepada BT Sport.

"Saya melakukan yang terbaik dalam pemilihan. Seperti musim lalu melawan Olympique Lyon, seperti saat melawan PSG dan Dortmund. Saya melakukan seleksi terbaik untuk memenangkan pertandingan, para pemain tahu itu. Saya pikir Gundogan bermain bagus, luar biasa."

"Kami melewatkan sedikit peluang, tetapi di babak pertama untuk melalui garis (pertahanan Chelsea). Di babak kedua itu jauh lebih baik. Itu pertandingan yang ketat. Kami memiliki peluang hampir yang sangat besar."

Singkatnya, Tuchel hanya perlu melanjutkan sistem yang sudah diterapkannya dan teruji menjadi anti-taktik City, sementara Guardiola masih penasaran mengalahkan Chelsea. Lantas bagaimana bisa Tuchel sudah 'menang' sebelum laga dimulai?

Chelsea Mengontrol Pertandingan

Mengontrol pertandingan tidak selamanya diukur dengan penguasaan bola. Jika melihat statistik itu City - menurut Whoscored - unggul 60,4 berbanding 39,6 persen dari Chelsea, tetapi fakta bahwa mereka hanya melakukan satu sepakan tepat sasaran dari tujuh percobaan cukup menarik.

Hal itu mengartikan apabila Chelsea mampu membuat City frustrasi dengan permainan agresif, pressing tinggi, merebut bola dan melancarkan serangan cepat dengan memanfaatkan ruang sedari awal laga. Chelsea melakukannya dengan baik dari fase bertahan dan juga ofensif.

"Para pemain punya determinasi kuat memenanginya (Liga Champions). Kami ingin jadi batu di sepatu City (membuat City frustrasi). Kami ingin sedikit lebih berani dengan bola, tetapi di babak kedua pertarungan sesungguhnya terjadi," terang Tuchel.

Di atas kertas City menerapkan taktik 4-3-3. Kala sedang bermain ofensif dan menguasai bola para pemain City melakukan fluensi hingga berubah menjadi 3-1-3-3: membentuk berlian di lini tengah antara Gundogan, Foden, Silva, dan Oleksandr Zinchenko.

Man City berubah menjadi 3-1-3-3 kala menguasai bola (Foto: FMS)

Ketika City melakukan pergerakan itu Chelsea - di fase bertahan - sudah melakukan blok bola dari lini depan. Timo Werner, Havertz, Mason Mount membantu N'Golo Kante, Jorginho agar City tidak leluasa mengontrol bola di tengah dan memaksa mereka bermain melebar.

Dalam permainan itu disiplin dibutuhkan Chelsea dan mereka menjalankan instruksi dengan baik, khususnya Cesar Azpilicueta, Antonio Rudiger, N'Golo Kante, dan Reece James yang bertahan dengan solid.

Tak ayal Havertz sampai berkorban demi kepentingan tim dan melakukan tiga tekel serta dua kali memenangi duel perebutan bola udara.

Sementara dalam fase ofensif kala menguasai bola para pemain Chelsea tetap dekat dan mengombinasikannya dengan permainan bola terobosan panjang. Dalam hal ini Chelsea memanfaatkan ruang kala pemain City melakukan pressing.

Tanpa gelandang bertahan murni dalam skuad City situasi duel satu lawan satu kerap terjadi, bahkan gol Havertz memperlihatkan bagaimana serangan balik memanfaatkan ruang itu terbukti efisien untuk Chelsea mencetak gol.

Chelsea memanfaatkan ruang di pertahanan City (Foto: FMS)

Mason Mount menerima bola, bergerak memutar dan John Stones maju untuk menutupnya dengan Kyle Walker, menyisakan Ruben Dias dan Zinchenko untuk menjaga Werner dan Havertz. Havertz dengan cerdas melihat ruang dan menyerangnya hingga berbuah gol.

Menilik dua fase Chelsea kala bertahan dan menguasai bola itu dapat disimpulkan bahwa mereka sudah 'mengontrol' Man City sejak awal pertandingan.

"Ada tim-tim luar biasa hebat dalam kompetisi ini yang telah memenangkannya (titel Liga Champions) empat, lima atau enam kali dalam 60 tahun," tambah Guardiola.

"Kami bisa bermain sedikit lebih baik di babak pertama, tapi ini pertama kalinya kami (di final). Kami tidak menghadapi terlalu banyak bahaya."

"Mereka memiliki satu peluang. Kami kuat dalam pertahanan dan kami memiliki peluang. Kami tidak memanfaatkan mereka, dan mereka menang."

Sepak bola telah membuktikan bahwa bukan penguasaan bola yang jadi hal penting, tetapi tim mana yang lebih efisien mencetak gol dan mengamankan keunggulan. Chelsea unggul dalam hal tersebut di Portugal.

Breaking News Chelsea Manchester City Liga Champions Analisis Thomas Tuchel Pep Guardiola

Arief Hadi

Sports Journalist & Tactical Analyst. 10+ years of experience (ex-PanditFootball, BolaTotal, FourFourTwo, Fox Sports, 90min). Manchester United loyalist since 2004. Passionate about tactical breakdowns, gaming, and cinema. Exploring the world of football, one tweet at a time.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Hasil akhir
Hasil Pertandingan: Roma Gagal Salip Inter Milan, Tottenham Menang di Markas Chelsea
Hasil Serie A dan Liga Inggris: Napoli bermain imbang 3-3 dengan Roma, sementara Tottenham menang 2-0 di markas Chelsea. Simak hasil lengkapnya.
Arief Hadi - Minggu, 25 Oktober 2026
Hasil Pertandingan: Roma Gagal Salip Inter Milan, Tottenham Menang di Markas Chelsea
Hasil akhir
Hasil Premier League 2026-2027: Manchester City Telan Kekalahan Perdana, Arsenal Menempel Ketat
Manchester City menelan kekalahan perdana di Premier League 2026/2027 usai tumbang di kandang Aston Villa. Arsenal yang menang atas Everton jadi menempel ketat.
Gazza Roosaryatama - Sabtu, 24 Oktober 2026
Hasil Premier League 2026-2027: Manchester City Telan Kekalahan Perdana, Arsenal Menempel Ketat
Jadwal
Cara Menonton dan Link Streaming Chelsea vs Tottenham Hotspur, Live Sebentar Lagi di Televisi Nasional
Chelsea vs Tottenham Hotspur tayang di SCTV dan Vidio pada 24 Oktober 2026 pukul 23.30 WIB. Simak jadwal dan link live streaming Derby London.
Arief Hadi - Sabtu, 24 Oktober 2026
Cara Menonton dan Link Streaming Chelsea vs Tottenham Hotspur, Live Sebentar Lagi di Televisi Nasional
Berita
SVA Senayan Padel Club Resmi Dibuka, Usung Konsep Olahraga dan Lifestyle
SVA Senayan Padel Club resmi diperkenalkan di Jakarta dengan tiga lapangan padel indoor premium, fasilitas wellness, turnamen, dan hiburan musik.
Rizqi Ariandi - Sabtu, 24 Oktober 2026
SVA Senayan Padel Club Resmi Dibuka, Usung Konsep Olahraga dan Lifestyle
MotoGP
Veda Ega Catatkan Sejarah Usai Raih Pole Position Moto3 Australia 2026
Veda Ega Pratama jadi pembalap Indonesia pertama yang meraih pole position di Moto3 Australia 2026. Simak statistik dan komentarnya di sini!
Gazza Roosaryatama - Sabtu, 24 Oktober 2026
Veda Ega Catatkan Sejarah Usai Raih Pole Position Moto3 Australia 2026
E-sports
Piala Panglima TNI Esports Championship 2026 Jadi Panggung Talenta Daerah, Kodam XVII/Cendrawasih Juara
Kodam XVII/Cendrawasih menjuarai Piala Panglima TNI Esports Championship 2026. Turnamen ini menjadi wadah pembinaan atlet dan talenta esports daerah.
Rizqi Ariandi - Sabtu, 24 Oktober 2026
Piala Panglima TNI Esports Championship 2026 Jadi Panggung Talenta Daerah, Kodam XVII/Cendrawasih Juara
Prediksi
Prediksi dan Link Streaming Persijap Jepara vs Java United FC: Mencari Penguasa Jawa Tengah
Persijap Jepara vs Java United FC, pekan ke-7 Super League 2026/2027, di Stadion Gelora Bumi Kartini, Sabtu (24/10), pukul 19.00 WIB, Live Vidio.
Rizqi Ariandi - Sabtu, 24 Oktober 2026
Prediksi dan Link Streaming Persijap Jepara vs Java United FC: Mencari Penguasa Jawa Tengah
Liga Indonesia
Radovan Pankov Jadi Andalan Shin Tae-yong, Ban Kapten Persija Bukan Hal Baru
Radovan Pankov dipercaya Shin Tae-yong menjadi kapten Persija Jakarta saat Rizky Ridho absen. Bek Serbia itu menunjukkan kualitas dan jiwa kepemimpinannya di Super League 2026/2027.
Rizqi Ariandi - Sabtu, 24 Oktober 2026
Radovan Pankov Jadi Andalan Shin Tae-yong, Ban Kapten Persija Bukan Hal Baru
Jadwal
Cara Menonton dan Link Streaming Chelsea vs Tottenham, Live di SCTV?
Chelsea vs Tottenham berlangsung Sabtu, 24 Oktober 2026 pukul 23.30 WIB. Simak cara menonton, jadwal, dan link live streaming di SCTV serta Vidio.
Arief Hadi - Sabtu, 24 Oktober 2026
Cara Menonton dan Link Streaming Chelsea vs Tottenham, Live di SCTV?
Liga Indonesia
Jadwal dan Link Streaming IWL 2026/2027 Pekan 2: Persija vs Persikad, Dewa United Tantang Persita
Jadwal lengkap IWL 2026/2027 pekan kedua di Indomilk Arena, Minggu (25/10), lengkap dengan jam pertandingan dan cara menonton gratis di TVRI serta YouTube Rans Entertainment.
Rizqi Ariandi - Sabtu, 24 Oktober 2026
Jadwal dan Link Streaming IWL 2026/2027 Pekan 2: Persija vs Persikad, Dewa United Tantang Persita
Bagikan