Faktor Pemecatan Xabi Alonso di Real Madrid
BolaSkor.com - Januari 2026 yang notabene awal tahun menjadi mimpi buruk bagi beberapa pelatih karena 'tren' pecat pelatih.
Menyusul Enzo Maresca di Chelsea dan Ruben Amorim di Manchester United, Real Madrid juga berpisah dengan sang pelatih, Xabi Alonso.
"Real Madrid ingin mengumumkan bahwa, berdasarkan kesepakatan bersama antara klub dan Xabi Alonso, telah diputuskan untuk mengakhiri masa jabatannya sebagai pelatih tim utama," demikian pernyataan dari laman resmi Madrid.
Baca Juga:
Xabi Alonso Dipecat, Alvaro Arbeloa Jadi Pelatih Baru Real Madrid
Real Madrid vs Barcelona Legends Akan Getarkan GBK, Sambut 500 Tahun Jakarta
Real Madrid Kalah Lagi di Final Piala Super Spanyol, Perasaan Xabi Alonso Campur Aduk
Pemecatan itu datang setelah Madrid kalah 2-3 di final Piala Super Spanyol melawan Barcelona, namun terjadi tiba-tiba tanpa adanya rumor pemecatan.
Terlebih, Madrid tidak berada di posisi yang buruk di LaLiga, bermain baik di Liga Champions, dan memiliki statistik 34 laga, 24 kemenangan, enam kekalahan, empat hasil imbang, Madrid mencetak 72 gol dan kebobolan 38 gol (10 kali clean sheets).
Alasan Kepergian Xabi Alonso
Berstatus legenda klub bukan jaminan Alonso dapat mengontrol kamar ganti Los Blancos, setelah tiga tahun melatih Bayer Leverkusen.
Di sana, Alonso memiliki skuad yang mengikuti instruksi yang diberikannya dan bermain kolektif hingga Leverkusen pecah telur juara Bundesliga.
Xabi Alonso (Laman Resmi Real Madrid)
"Saya merasa kasihan pada Xabi Alonso, karena Anda bisa melihat apa yang mampu dia lakukan bersama Leverkusen ketika dia memiliki tim yang benar-benar bersedia mendengarkan apa yang ingin dia lakukan," papar pandit sepak bola, Thierry Henry via Footballjoe.
Melatih klub seperti Madrid tidak pernah mudah, terutamanya dalam mengambilalih kamar ganti pemain, seperti yang dilakukan Carlo Ancelotti dalam empat tahun terakhir sebelum Alonso datang.
Pemecatan Alonso tak diduga datangnya dan pakar sepak bola Spanyol, Guillem Balague, memiliki jawaban alasan pemecatan tersebut.
Kesendirian Xabi Alonso
"Sedari awal, Xabi merasa sendiri," tulis Balague dalam kolom tulisan di BBC Sport.
Alonso, 44 tahun, sudah berusaha bersabar mengatur skuad Madrid sejak awal datang dari Leverkusen.
Eranya diwarnai banyak drama mulai dari isu keributan dengan Vinicius Junior, kekalahan di final Piala Super Spanyol, hingga kurangnya dukungan dari klub.
Alonso menginginkan gelandang baru setelah Luka Modric pergi dan manajemen tak memberikannya.
Klimaksnya, pasca kalah dari Barcelona di Piala Super Spanyol, Kylian Mbappe bertolak dengan Alonso soal pemberian guard of honour dan para pemain memilih mengikutinya ketimbang Alonso.
Itu sudah memperlihatkan pengaruh Alonso yang tidak didengar para pemain Madrid, meyakinkannya untuk pergi sebagai pelatih klub.
"Kylian Mbappe memberi isyarat kepada rekan-rekan setimnya untuk meninggalkan lapangan. Xabi Alonso memintanya untuk tetap tinggal. Mbappe bersikeras. Dan Xabi, akhirnya, berpaling dan melakukan apa yang diminta oleh bintangnya," tambah Balague.
"Bagi banyak orang, itu tampak seperti kurangnya keanggunan sportif, sesuatu yang tidak pernah dikaitkan dengan Xabi Alonso. Itu juga menunjukkan sesuatu yang sama sekali berbeda, bahwa tim, bukan manajer, yang memegang kendali."
Xabi Alonso dan Florentino Perez (Laman Resmi Real Madrid)
Sudah tak dapat mengontrol ruang ganti Madrid, Alonso juga tak sepenuhnya didukung manajemen.
"Lebih dari sekadar krisis, ini adalah konfirmasi bahwa Florentino Perez tidak pernah benar-benar percaya pada manajernya," tambah Balague.
"Xabi Alonso disarankan kepadanya dan disetujui sebagai pelatih baru klub, tetapi tanpa keyakinan."
"Di klub sebelumnya, Bayer Leverkusen, tidak semua orang langsung menerima Xabi sejak hari pertama."
"Hasil pun datang, dan skuad pun berbalik mendukungnya. Di Madrid, bahkan dengan hasil yang cukup baik, hal itu tidak pernah terjadi. Sejak awal, Xabi merasa sendirian."